Menjadi Kutu Buku
Pengalaman belajar dalam situasi yang tidak mudah jelas bukan penghalang. Andi tetap harus bisa menyesuaikan diri dengan keadaan yang ada. Andi mengerti kesulitan orangtua Andi. Setahun lamanya Andi ditumpangkan ke rumah kerabat sebelum akhirnya berada di indekos sendiri. Tetapi setahun kemudian, Andi tetap harus belajar menahan diri. Meski Abi dan Bunda sudah bisa membayar kos Andi pasti dengan susah payah Andi tetap belum bisa menikmati hidup selayaknya anak kos. Sarapan pagi, di tahun kedua Andi kuliah, dapat dikatakan harus Andi lewatkan, demi menghemat biaya hidup. Badan Andi yang memang dasarnya kurus kerempeng, saat itu menjadi lebih “langsing” karena Andi Andi hanya sarapan pagi segelas kopi dan biskuit saja dan Lontong sayur atau Nasi Uduk.
Selain tidak sanggup
membayar indekos, Abi dan Bunda Andi tidak sanggup membelikan buku-buku kuliah.
Andi tahu benar keadaan kantong mereka. Maka apa saja yang dapat dilakukan,
akan Andi kerjakan. Andi terkadang meminjam buku dari senior. Itupun jika tidak
terlanjur diberikan kepada mahasiswa lainnya. Lebih sering memang Andi meminjam
buku dari teman seangkatan. Waktu itu harga fotokopi tidaklah semahal sekarang.
Tetap saja Andi tidak mampu.
Apa cara? Maka
terpaksalah kemampuan menghafal dan kemampuan menulis cepat menjadi andalan.
Karena jangka waktu meminjam dari teman sangat terbatas, maka Andi
menghafalnya. Ya, benar. Menghafal buku dan mencatat bagian-bagian pentingnya.
Uniknya, kebiasaan “terpaksa” tersebut membuat Andi terbiasa mengingat banyak
hal dengan cepat yang bermanfaat untuk studi Andi pada jenjang-jenjang
berikutnya.
Andi amat beruntung.
Sejak kecil sudah dilatih kedisiplinan. Sebab, menempuh pendidikan tinggi, kata
kuncinya adalah kedisiplinan. Seperti pernah Andi lakukan, Andi selalu menyusun
jadwal belajar hari demi hari secara mendetail dari waktu ke waktu. Andi
berusaha sedapat mungkin mengikuti dan menaati apa yang sudah Andi rencanakan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar