Itulah hidup. Andi tidak terlalu
percaya pada yang namanya kecerdasan bawaan. Di sebuah t-shirt pernah Andi baca tulisan bahwa kecerdasan hanya 1 persen
dibawa karena lahir, sementara 99 persen karena bentukan. Andi percaya itu.
Andi mengamini sebuah tulisan di t-shirt Andi yang bertuliskan: Yes, We Can.
Persis seperti kalimat Presiden Obama yang terpilih untuk pertama kalinya.
Melintasi batas-batas kemustahilan, Obama membuktikan bahwa ia mampu melakukan
sesuatu yang melewati batas-batas fisik yang sangat terbatas itu,
Banyak orang kemudian berhasil menjadi diri
sendiri, yaitu menemukan sifat gen yang diwarisinya dari dalam kandungan,
karena berada dalam keluarga dan bentukan yang tepat. Mereka benar-benar
mendapatkan kapasitas optimum dari dirinya sendiri karena orangtua yang
mendidiknya, atau bahkan lingkungannya berada, membuatnya mampu mengeluarkan
seluruh energi yang sesungguhnya dimilikinya dari dalam kandungan. Tetapi endingnya
ada lebih banyak yang tidak mampu menjadi seperti seharusnya dirinya.
Pernah mendengar mengenai elang di
sarang ayam? Tentu sebagian besar diantara kita pernah mendengar hal itu. Anak
elang yang besar dikandang ayam, akan merasa tetap sebagai ayam, selamanya.
Sampai jika ada yang memberitahu kepadanya bahwa ia adalah elang, maka ia tidak
akan pernah menjadi elang yang sesungguhnya. Ia akan tetap diam di kandang
ayam, dan tidak akan pernah bisa melakukan apa yang seharusnya bisa dia
lakukan. Meski potensi dasarnya adalah elang, maka ia akan mati sebagai ayam.
Terus terang, Andi beruntung bahwa Andi
bisa menemukan diri Andi, sejak kecil, karena diberitahu oleh orang terdekat
Andi mengenai Andi mampunya apa dan bisanya apa. Andi beruntung karena dengan
demikian Andi tidak perlu menghabiskan banyak waktu di tahun-tahun berikutnya
untuk mengetahui diri Andi. Dan karena itulah maka Andi tidak perlu
mencari-cari seperti apa diri Andi, hari ini kita menyaksikan begitu banyak anak-anak
muda yang kehilangan kemampuan menemukan dirinya sendiri. Mereka sering tidak
bisa menjawab hendak menjadi apa. Banyak diantaranya yang kemudian meninggalkan
bangku sekolah. Mereka kehilangan kesempatan untuk menjadi diri mereka di saat
yang paling awal. Akibatnya banyak yang harus membuang beberapa tahun untuk
sekedar menjadi seseorang.
Tidak bisa tidak, di usia yang paling
dinilah seharusnya seseorang bisa membayangkan masa depannya. Di usia paling
dini, bayang-bayang mengenai masa depan seseorang harus sudah diasah, dilatih
dan diletakkan. Sesudah ia dewasa, ia akan menemukan sendiri apa yang menjadi
keinginannya sesuai dengan dirinya sendiri, Sebagai seseorang dengan penampilan
pas-pasan karena Abi dan Ummi tidak punya cukup uang untuk membelikan pakaian,
jelas awalnya Andi sangat minder.
#Irwandhie
Luar biasa tetap Istikamah berbagi
BalasHapus