Wajar jika kemudian Andi melihat teman-teman yang umumnya dari kota, yang berpenampilan yang lebih keren dari Andi. Tetapi Andi memilih untuk tidak terus menerus terlarut didalamnya. Andi coba bersikap biasa saja, dengan modal percaya diri yang Andi sudah miliki sejak dari Pasaman Timur. Suasana kampus memang berbeda amat jauh dibandingkan ketika masih SMK dulu. Tetapi di sinilah Andi menyaksikan betapa terpananya mata Andi bertemu dan melihat mereka yang bergelar dan bersekolah tinggi.
Beberapa dosen memiliki gelar cukup “wah” bagi
Andi ketika itu. Mereka umumnya mempunyai gelar master bahkan ada yang sudah
doktor. Bahkan ada pula dosen Andi, yang memiliki dua gelar master, yang
didapatkan dari luar negeri. Andi sangat terpukau oleh hal itu. Waktu itu,
dalam pikiran Andi, mereka yang bergelar, pastilah pintar. Pastilah cerdas. Dan
pastilah bukan orang sembarangan. Diam-diam, Andi menyimpan keinginan untuk
sepintar mereka.
Gelar dan kebanggaan menempuh
pendidikan yang lebih tinggi dari sarjana sungguh mengesankan. Inilah yang
menjadi titik awal keinginan Andi untuk juga menempuh dan memperoleh jejak yang
sama dengan mereka yang sudah memilikinya. Maka sejak saat itu Andi benar-benar
memiliki impian untuk tidak berhenti pada kelulusan sebagai seorang sarjana
kelak. Andi ingin juga menyandang gelar seperti mereka. Patut Andi berpandangan
seperti itu.
Di zaman Andi sekolah, amat sedikit mereka
yang bergelar master. Adapun, itu tidak mudah. Bukan seperti sekarang, telah
banyak orang yang bergelar master.
Karena itu, sering
sekali Andi menulis di selembar kertas nama Andi: Tiaka Andi Novianti. Lalu,
Andi menuliskan, beberapa gelar: MM, MS,
MPH, atau MSi, sebagaimana
dimiliki oleh dosen-dosen setelah nama Andi.
Tidak berhenti sampai disitu, kemudian
Andi lengkapi di depannya dengan tulisan DR.
Doktor. Andi pandangi berulang-ulang. Andi suka tersenyum melihatnya. Kadang
Andi buang kertas yang sudah Andi tulis itu, tapi Andi tuliskan hal yang sama
di kertas lain, di kali lain. Entah apa yang membuat Andi sangat mengidolakan
mereka yang bersekolah. Menurut Andi, berarti mereka telah mendapatkan ilmu
yang sangat tinggi. Ya, itulah yang terjadi saat awal-awal Andi kuliah di Padang.
Andi menuliskan impian di kertas dan dalam hati berharap bahwa Andi bisa
mendapatkan hal-hal itu kelak. Keinginan seperti itu seolah datang begitu saja,
namun itulah yang kemudian mendorong Andi untuk benar-benar belajar dengan
baik.
Menulis nama sendiri
dengan embel-embelnya, seperti mengingatkan diri Andi mengenai garis batas
bawah yang telah digoreskan oleh Abi beberapa tahun sebelumnya. Andi kembali
mengingat kalau Andi harus mampu melewati batas gelar BA yang telah dimiliki
oleh Abi, #menulis 365 hari Tanpa Jeda
Tidak ada komentar:
Posting Komentar