Kamis, 08 Juli 2021

Menulis nama sendiri dengan embel-embelnya

            Wajar jika kemudian Andi melihat teman-teman yang umumnya dari kota, yang berpenampilan yang lebih keren dari Andi. Tetapi Andi memilih untuk tidak terus menerus terlarut didalamnya. Andi coba bersikap biasa saja, dengan modal percaya diri yang Andi sudah miliki sejak dari Pasaman Timur. Suasana kampus memang berbeda amat jauh dibandingkan ketika masih SMK dulu. Tetapi di sinilah Andi menyaksikan betapa terpananya mata Andi bertemu dan melihat mereka yang bergelar dan bersekolah tinggi.

           Beberapa dosen memiliki gelar cukup “wah” bagi Andi ketika itu. Mereka umumnya mempunyai gelar master bahkan ada yang sudah doktor. Bahkan ada pula dosen Andi, yang memiliki dua gelar master, yang didapatkan dari luar negeri. Andi sangat terpukau oleh hal itu. Waktu itu, dalam pikiran Andi, mereka yang bergelar, pastilah pintar. Pastilah cerdas. Dan pastilah bukan orang sembarangan. Diam-diam, Andi menyimpan keinginan untuk sepintar mereka.

           Gelar dan kebanggaan menempuh pendidikan yang lebih tinggi dari sarjana sungguh mengesankan. Inilah yang menjadi titik awal keinginan Andi untuk juga menempuh dan memperoleh jejak yang sama dengan mereka yang sudah memilikinya. Maka sejak saat itu Andi benar-benar memiliki impian untuk tidak berhenti pada kelulusan sebagai seorang sarjana kelak. Andi ingin juga menyandang gelar seperti mereka. Patut Andi berpandangan seperti itu.

          Di zaman Andi sekolah, amat sedikit mereka yang bergelar master. Adapun, itu tidak mudah. Bukan seperti sekarang, telah banyak orang yang bergelar master.

Karena itu, sering sekali Andi menulis di selembar kertas nama Andi: Tiaka Andi Novianti. Lalu, Andi menuliskan, beberapa gelar: MM, MS, MPH, atau MSi, sebagaimana dimiliki oleh dosen-dosen setelah nama Andi.

        Tidak berhenti sampai disitu, kemudian Andi lengkapi di depannya dengan tulisan DR. Doktor. Andi pandangi berulang-ulang. Andi suka tersenyum melihatnya. Kadang Andi buang kertas yang sudah Andi tulis itu, tapi Andi tuliskan hal yang sama di kertas lain, di kali lain. Entah apa yang membuat Andi sangat mengidolakan mereka yang bersekolah. Menurut Andi, berarti mereka telah mendapatkan ilmu yang sangat tinggi. Ya, itulah yang terjadi saat awal-awal Andi kuliah di Padang. Andi menuliskan impian di kertas dan dalam hati berharap bahwa Andi bisa mendapatkan hal-hal itu kelak. Keinginan seperti itu seolah datang begitu saja, namun itulah yang kemudian mendorong Andi untuk benar-benar belajar dengan baik.

Menulis nama sendiri dengan embel-embelnya, seperti mengingatkan diri Andi mengenai garis batas bawah yang telah digoreskan oleh Abi beberapa tahun sebelumnya. Andi kembali mengingat kalau Andi harus mampu melewati batas gelar BA yang telah dimiliki oleh Abi, #menulis 365 hari Tanpa Jeda

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar