Terpaksalah Andi
harus mengalah. Andi menunggu mereka tidur untuk kemudian memulai belajar
ketika malam sudah mulai larut. Jelas tidak mudah melakukannya sementara jadwal
tidur siang Andi tidak ada. Cara lain ialah menghabiskan waktu sepulang kuliah
di perpustakaan.
Diperpustakaan Daerah
, ada ruang belajar yang dapat digunakan sampai malam. Hanya, Andi pulangnya
memang harus melintasi jalan yang agak sepi dan gelap. Beruntung sekali-sekali
ada teman pulang ke arah yang sama.
Pengalaman belajar
dalam situasi yang tidak mudah tersebut jelas bukan penghalang. Andi tetap
harus bisa menyesuaikan diri dengan keadaan yang ada. Andi mengerti kesulitan
orangtua Andi. Setahun lamanya Andi ditumpangkan ke rumah kerabat sebelum
akhirnya berada di indekos sendiri. Tetapi setahun kemudian, Andi tetap harus
belajar menahan diri. Meski Abi dan Mama sudah bisa membayar kos Andi—pasti
dengan susah payah—Andi tetap belum bisa menikmati hidup selayaknya anak kos.
Sarapan pagi, di
tahun kedua Andi kuliah, dapat dikatakan harus Andi lewatkan, demi menghemat
biaya hidup. Badan Andi yang memang dasarnya kurus kerempeng, saat itu menjadi
lebih “langsing” karena Andi Andi hanya sarapan pagi segelas kopi dan biskuit
saja serta lontong sayur harga Rp. 10.000
Tidak ada komentar:
Posting Komentar