Kuliah dengan cara demikian memang sedikit melelahkan. Andi harus kuliah dari pagi sampai dengan sore hari, diluar dari tugas kelompok dan tugas mandiri yang umumnya essay. Materi yang diberikan juga cukup luas dan banyak, sehingga kita dituntut belajar sendiri dan mandiri meski tidak selamanya kita harus menguasai semuanya, Tetapi Andi menikmatinya. Salah satu yang mempermudah daya adaptasi Andi adalah karena ilmu yang Andi pelajari merupakan kelanjutan dari ilmu sewaktu S1 dulu. Jadi tidak susah-susah amat menguasainya. Itulah keuntungan jika kita meneruskan studi berdasarkan keilmuan yang dalam bahasa sekarang disebut linear. Apalagi karena dalam beberapa mata kuliah inti, Andi menguasainya karena mengajarkan topik tersebut di beberapa kampus.
Satu kelas master di masa Andi belajar
di terdiri dari puluhan orang. Andi bergaul dengan teman-teman yang berasal
dari berbagai daerah dengan berbagai warna kulit dan cara bicara termasuk cara
belajar. Pernah waktu sedang kuliah biostatistika, teman Andi dari Pasaman
Timur melihat cara Andi menggunakan perkalian tanpa menggunakan kalkulator. Ia
terkejut dan keheranan, serta bertanya kapan Andi menghitungnya. Lalu Andi
menjelaskan bahwa Andi sudah menghafal perkalian sejak dari Sekolah Dasar.
Mendengarnya, ia kelihatan shock. Ya,
mungkin karena kita sudah terbiasa begitu sejak kecil, maka otomatis saja
perhitungan itu muncul dengan cepat. Teringat dulu guru Andi sewaktu Sekolah Dasar,
yang berdiri dengan sebuah penggaris kayu dan siap diayunkan jika kita tidak
bisa menghafal perkalian itu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar