Selain tidak sanggup membayar indekos, Abi dan Mama Andi tidak sanggup membelikan buku-buku kuliah. Andi tahu benar keadaan kantong mereka. Maka apa saja yang dapat dilakukan, akan Andi kerjakan. Andi terkadang meminjam buku dari senior. Itupun jika tidak terlanjur diberikan kepada mahasiswa lainnya. Lebih sering memang Andi meminjam buku dari teman seangkatan. Waktu itu harga fotokopi tidaklah semahal sekarang. Tetap saja Andi tidak mampu.
Apa cara? Maka terpaksalah kemampuan
menghafal dan kemampuan menulis cepat menjadi andalan. Karena jangka waktu
meminjam dari teman sangat terbatas, maka Andi menghafalnya. Ya, benar.
Menghafal buku dan mencatat, bagian-bagian pentingnya. Uniknya, kebiasaan
“terpaksa” tersebut membuat Andi terbiasa mengingat banyak hal dengan cepat
yang bermanfaat untuk studi Andi pada jenjang-jenjang berikutnya.
Andi amat beruntung. Sejak kecil sudah
dilatih kedisiplinan. Sebab, menempuh pendidikan tinggi, kata kuncinya adalah
kedisiplinan. Seperti pernah Andi lakukan, Andi selalu menyusun jadwal belajar
hari demi hari secara mendetail dari waktu ke waktu. Andi berusaha sedapat
mungkin mengikuti dan menaati apa yang sudah Andi rencanakan. Kadang sewaktu
belajar mata kerap lelah dan mengantuk, Andi paksakan terus belajar dan berkonsentrasi.
Caranya, membasahi kaki dengan air dingin supaya ada rasa dingin yang menjalar.
Lumayan agar mata kuat lagi. Kalau masih mengantuk, Andi mencoba membaca sambil
berdiri, kalau perlu dengan berjalan sedikit cepat mengelilingi kamar. Semuanya
Andi usahakan demi mengerti sesuatu hal dengan baik. Prinsip Andi, mata harus
mengikuti impian Andi: bersekolah tinggi-tinggi. Mata tidak boleh mengatur Andi
hendak menjadi apa. Kalau memang sudah lelah, Andi memilih untuk tidur, tetapi
bangun lebih pagi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar