Pertama kali tiba di Duriangkang, cara
memasak makanan tentulah ala kadarnya. Yang penting bisa bertahan hidup. Tetapi
sesudahnya, Andi mulai belajar memanjakan lidah dengan masakan yang lebih
“manusiawi”. Beruntung beberapa resep makanan dan cara memperlakukan makanan
tersebut, tertulis di belakang bumbu atau bahan makanan yang dijual.
Mengenai bumbu, memang itu adalah alternatif
tercepat. Sewaktu sempat pulang ke Rao Selatan, maka bekal bumbu jadi (instant) adalah “wajib”, termasuk
membawa makanan khas Tobiang Pondom. Di Duriangkang, biaya hidup menjadi salah
satu pertimbangan penting untuk dipikirkan. Salah satu komponen yang bisa
sangat mahal adalah biaya untuk membayar rumah. Sewaktu Andi pertama sekali
sampai di Duriangkang, Andi menginap di student
accomodation, yang biayanya jauh lebih mahal.
Namun ada untungnya. Fasilitas kampus ini
biasanya sudah termasuk semua biaya. Kemudian Andi pindah ke private accomodation yang dimiliki oleh
seorang Melayu, dengan biaya yang sangat murah, meski Andi harus membayar untuk
biaya listrik dan air . Andi mendapatkannya melalui informasi dari warga Rao yang tinggal di sana.
Cara serupa Andi lakukan ketika melanjutkan studi ke Surabaya. Melalui relasi dengan rekan yang sudah terlebih dahulu di Surabaya, Andi kemudian menemukan flat yang biayanya memang jauh lebih murah dari yang ditawarkan oleh kampus. Andi memang tidak khawatir dengan akomodasi karena biasanya kampus akan membantu mendapatkannya melalui fasilitas yang mereka berikan. Hanya saja itu tadi, biayanya jauh lebih mahal.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar