Suara tersebut diteriakkan oleh para calo. Mereka berteriak-teriak, sekuat tenaga tentu sehingga para penumpang akan memasuki angkot yang ada. Teriak calo-calo itu, misalnya: “Piayu, Piayu, Piayu!!” Berarti angkot tersebut akan menuju arah Piayu.
Kalau penumpang sudah penuh, maka angkotnya
akan bergerak. Bagaimana dengan calo tadi? Dia akan tetap tinggal di terminal
dan kemudian akan berteriak kembali. Dia hanya akan menjadi calo yang tidak
pernah kemana-mana. Ia hanya meneriakkan petunjuk jalan bagi orang lain.
Memang
kalau kita ingin menyederhanakan, dalam dunia ini ada dua kategori orang. Orang
pertama adalah orang yang meneriakkan jalan bagi orang lain. Mereka bagaikan anak
bawang yang hanya menjadi pelengkap. Ketika orang lain berhasil mencapai
impiannya, mereka tetap tertinggal dan tidak pernah kemana-mana. Itulah
gambaran mereka yang tidak pernah bermimpi.
Orang kedua, sebagaimana kisah dalam cerpen
ini, adalah mereka yang bermimpi dan ingin pergi jauh-jauh, berangkat kemana
mereka hendak inginkan dan pergi ke tempat yang mereka ingin capai.
Cerpen yang kecil dan singkat ini yang
jadi novel pada 2023 nanti Andi berikan sebagai hadiah kepada generasi
berikutnya, kaum muda yang ingin melanjutkan pendidikan setinggi-tingginya.
Sewaktu Sekolah Dasar, di sampul buku
catatan Andi ada tulisan berisi pesan Bung Karno: “Gantungkan cita-cita mu
setinggi langit! Bermimpilah setinggi langit. Jika engkau jatuh, engkau akan
jatuh di antara bintang-bintang.” Tulisan itu tetap Andi ingat dan kenang.
Jangan tanggung dalam bermimpi. Gantungkan setinggi langit!
#
Istikamah berbagi #Irwandhie
Tidak ada komentar:
Posting Komentar