Jumat, 20 Agustus 2021

Jangan Tanggung Dalam Bermimpi

 Suara tersebut diteriakkan oleh para calo. Mereka berteriak-teriak, sekuat tenaga tentu sehingga para penumpang akan memasuki angkot yang ada. Teriak calo-calo itu, misalnya: “Piayu, Piayu, Piayu!!” Berarti angkot tersebut akan menuju arah Piayu.

 

 Kalau penumpang sudah penuh, maka angkotnya akan bergerak. Bagaimana dengan calo tadi? Dia akan tetap tinggal di terminal dan kemudian akan berteriak kembali. Dia hanya akan menjadi calo yang tidak pernah kemana-mana. Ia hanya meneriakkan petunjuk jalan bagi orang lain.

 

 Memang kalau kita ingin menyederhanakan, dalam dunia ini ada dua kategori orang. Orang pertama adalah orang yang meneriakkan jalan bagi orang lain. Mereka bagaikan anak bawang yang hanya menjadi pelengkap. Ketika orang lain berhasil mencapai impiannya, mereka tetap tertinggal dan tidak pernah kemana-mana. Itulah gambaran mereka yang tidak pernah bermimpi.

 

Orang kedua, sebagaimana kisah dalam cerpen ini, adalah mereka yang bermimpi dan ingin pergi jauh-jauh, berangkat kemana mereka hendak inginkan dan pergi ke tempat yang mereka ingin capai.

 

Cerpen yang kecil dan singkat ini yang jadi novel pada 2023 nanti Andi berikan sebagai hadiah kepada generasi berikutnya, kaum muda yang ingin melanjutkan pendidikan setinggi-tingginya.

 

Sewaktu Sekolah Dasar, di sampul buku catatan Andi ada tulisan berisi pesan Bung Karno: “Gantungkan cita-cita mu setinggi langit! Bermimpilah setinggi langit. Jika engkau jatuh, engkau akan jatuh di antara bintang-bintang.” Tulisan itu tetap Andi ingat dan kenang. Jangan tanggung dalam bermimpi. Gantungkan setinggi langit!

 # Istikamah berbagi #Irwandhie

 

 

 

 

 

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar